MENJADI PEJUANG SYARIAH

MENJADI PEJUANG SYARIAH oleh Ustadz Abdurrahman MuhammadPimpinan Umum HidayatullahIman yang lemah cenderung pada ‘syariat’ yang bukan dari Allah. Semakin lemah iman manusia, semakin cenderung ia menentang Allah. Iman yang sempurna otomatis cenderumg pada syariat Allah. Pengalaman seperti itu dilakonkan para nabi Allah dalam menegakkan kebenaran. Mereka dianugrahi nikmat kelapangan jiwa ditengah badai kegoncangan sehingga mereka tetap menemukan arah tujuan perjalanan iman itu.Allah swt berfirman, “Dan berjihadlah pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan kesempitan dalam agama.” (QS. al-Hajj: 78)Prototipe kesempurnaan iman terwujud dalam rumus-rumus sederhana pada diri para nabi dan rasul Allah. Contoh sekaligus petunjuk  kearah kebenaran, itulah fungsi utama mereka. Hebatnya, sejarah kehidupan mereka bukan semata berisi cerita yang penuh kenikmatan, tetapi juga lengkap dengan irama tantangan yang dihadapi. Karena sifat keimanannya para utusan Allah itu selalu tampil sebagai pemenang dalam semua keadaan. Sempit maupun lapang, susah maupun mudah. Karenanya, mari kita buang impian menegakkan syariat Islam andai jiwa kita masih diselimuti rasa khawatir dan pesimis, serta rasa takut dengan segala konsekuensi terburuk. Menegakkan syariat tidak terlepas dari akibat-akibat seperti itu.Semua telah diperlihatkan oleh para pejuang penegak kebenaran terdahulu. Ada pasang surut, ada tekanan dan pengusiran, bahkan penghinaan dan penyiksaan.Cermin ini tetap bening untuk kita saat ini. Semua itu hendaknya dijadikan sebagai alat untuk memperbaharui keimanan secara terus-menerus demi menggapai kemenangan. Agar kita yakin dan tidak ragu-ragu lagi.Dunia jahiliah ini secara global dikendalikan oleh kekuasaan thogut dengan segala pengaruhnya yang menjauhkan kita dari Allah swt. Hal ini kita lihat dari hancurnya tata nilai masyarkat yang semakin jauh dan menyimpang dari fitrahnya. Tatanan sosial-budaya, politik-ekonomi, semuanya telah rusak, dan hanya mengantarkan manusia tidak mengenal dirinya, apalagi orientasi penciptanya. Bukankah peradaban manusia sangat ditentukan coraknya pada sistem kekuasaan yang berlaku pada saat itu?Nilai keimanan yang terkias dari nabi-nabi Allah tidak mungkin tumbuh subur dalan kubangan peradaban seperti itu. Cahaya Allah tidak pernah menyinari pelita jiwa orang-orang yang tidak totalitas menyerahkan pengabdian dan ketaatannya kepada Allah swt dan rasul-Nya, hatta dalam urusan dunianya. Allah menggambarkan kedaan itu dalam surat al-Ahzab ayat 66-67:“Pada hari ketika wajah mereka dipanggang diatas api neraka, mereka berkata, alangkah baiknya, andaikata dahulu kami taat kepada Allah dan taat pada rasul.”“Dan mereka berkata, Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah mentaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesa kami, lalu mereka menyasatkan kami dari jalan yang benar.”Kepemimpinan dalam Islam bukanlah suatu kehormatan untuk dibanggakan, tapi ia merupakan amanah yang tidak boleh diminta apalagi dipaksakan. Kepemimpinan yang merupakan hasil permintaan dan paksaan tidak akan mendapatkan pertolongan dari Allah.Dalam paradigma Islam, kepemimpinan adalah alat atau sarana yang kita jadikan pelindung dan pemandu untuk eksisnya syariat Allah dimuka bumi ini. Kekuasaan ini meliputi tingkat kepemimpinan terkecil seperti memimpin diri sendiri dan keluarga, bagaimana upaya kita mengantarkan diri, anak dan istri dalam mengejewantahkan syariat Islam dalam kehidupan berkeluarga.Bukanlah suatu hal yang sulit untuk mewujudkan kepemipinan yang tegak berdasarkan syariat Islam. Karena tahapan jihad dimulai dari diri, maka berangkatlah dari sana. Kemudian dilanjutkan keluarga dan masyarakat. Kita satukan visi, bahwa visi keimanan adalah kepemimpinan. Bagaimana kita mendorong sebuah proses dalam diri unutk membentuk kepemimpinan dalam diri kita.Laki-laki adalah pemimpin, pembimbing dan pelindung rumah tangganya. Ia memiliki amanah dan wewenang untuk menegakkan syariat Allah di rumahnya. Kemudian dikembangkan ke lingkungan dimana ia berada. Seperti itulah sistem gerakan nabi-nabi Allah. Disanalah letak kekuatannya.Sebenarnya sangat sederhana gerakan ini, Allah tidak memerintahkan kepada kita untuk menguasai sebuah negara, untuk kemudian Islam tetap disana, Allah hanya mengatakan bahwa Islam itu adalah rahmat bagi seluruh alam, maka tebarkanlah rahmat itu ke seluruh alam dan jangan kalian menahan rahmat itu. Sebarkanlah ke segala penjuru.Pada hakikatnya, berjuang menegakkan syariat Allah adalah penyempurnaan harkat manusia di hadapan Allah. Nikmat yang diperoleh manusia dari tuhannya tidak akan sempurna jika kita tidak mengarahkan segala potensi, waktu, bahkan jiwanya unutk berjuang menegakkan kalimat-Nya ini. Manusia tidak akan pernah menikmati tempat yang nikmat disisi Allah jika tidak melibatkan diri dalam garis perjuangan dienullah.Allah swt berfirman, “Apakah kamu kira akan masuk surga padahal belum nyata dirimu sebagai pejuang dijalan Allah.” (QS. Ali Imran: 142)

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: